Sola Gratia - Sola Fide - Sola Scriptura

Obat Keangkuhan

(Renungan Pelita Hati, 15/3/2017)

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!
(1 Korintus 10:12)

Setiap tahun, orang-orang yang berurai air mata berdiri di depan peti mati seseorang yang meninggal. Ketika seseorang telah meninggal, kita tidak mungkin lagi mengatakan kepadanya, “Maafkan aku.” “Itu salahku.” “Ayolah, kita jangan bertengkar lagi.” “Aku merindukan persahabatan kita.”
Keangkuhan adalah tuan yang kejam. Keangkuhan membuat kita menyadari luka dan sakit hati kita sehingga kita tidak memerhatikan luka dan sakit hati orang lain, bahkan luka-luka yang kita sebabkan. Keangkuhan membuat segalanya selalu tentang aku. Keangkuhan mengubah kesalahpahaman menjadi pertukaran pendapat dan pertukaran pendapat menjadi pertengkaran. Keangkuhan membuat orang-orang bermuka masam, melamunkan masa lalu yang tidak bisa diubah.
Keangkuhan menggoda Anda untuk berpikir bahwa Anda tidak bersalah dan sudah bersikap benar. Rasul Paulus menyadari hal ini dengan cara yang menyakitkan: “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12).
Yesus memiliki obat untuk keangkuhan. Yesus adalah obatnya. Pertama-tama Dia menunjukkan kerendahhatian sejati. Dia datang ke dunia dan meninggalkan semua kemegahan surgawi, mengambil rupa seorang hamba. Dia tunduk pada hukum Allah dan kaisar, serta menaatinya untuk kita. Dia menyerah pada kematian yang menyedihkan di salib penebusan. Dengan dibangkitkan dan dimuliakan, sekarang Dia memanggil kita untuk percaya kepada-Nya dan menjadi seperti Dia, “bangga” menjadi hamba yang rendah hati. Inilah obat keangkuhan, yaitu menemukan sukacita dalam membuat hidup orang lain lebih baik

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *